Mulai menulis ini pukul 02.55 pagi, sembari mencari terminologi-terminologi biomekanik, belum tau selesai kapan. Sebetulnya menulis ini bukan hanya untuk Dian tapi waktu nya sangat pas sekali ditulis untuk Dian.
Dua hari yang lalu tiba-tiba terlempar balik pada waktu pagi hari di Jatinangor, bersama Dian jalan kaki dari Sukawening cari sarapan dan berhenti di nasi kuning deket belokan. Rindu, Yan! Ya ampun nangis gue sekarang haha. Kemudian baru kemarin Dian posting foto yang semakin menyayat hati.
Semakin tenggelam dalam kenangan jalan kaki sampe sore muter-muter kampus impian, terbirit-birit menunggu bus pulang yang cuma kedapetan diri sampe hampir titik terakhir pemberhentian bus alias hampir berdiri sampe terminal ciputat entahlah ya di situ udah capek ga sadar tidur sambil diri ya hahaha, masih inget juga kita ganti-gantian duduk, ya ampun suatu pengalaman banget gak sih?
Apalagi rindu nya jalan di Braga, Asia-Afrika, Alun-alun, trus diguyur hujan dan ketemu anak-anak SD study tour gak lupa bumbu manisnya itu para setan jadi-jadiannya hahaha, masih ada loh fotonya. Di sana kenangan itu dimulai, lalu berubah menjadi mimpi, kemudian harapan.
Ini perihal mimpi yang belum tercapai, atau bahkan tidak? Dian, gue masih dibayang-bayangi mimpi-mimpi tinggi. Ini perihal harapan saat pagi hari cari sarapan itu, harapan yang gue bangun setinggi itu supaya pagi hari yang akan datang punya momen sama, atau sedikit berbeda dengan makan bubur yang waktu itu kita gak jadi karena rame? haha.
Dian, terima kasih sudah jadi teman positif,
terima kasih selalu percaya,
terima kasih sudah bersama punya mimpi,
terima kasih selalu berpikir terbuka,
terima kasih sudah berteman sama gue.
Ini tidak hanya untuk Dian, untuk teman-teman gue, yang tidak perlu gue sebut tapi kalian, walau sedikit tapi terukir nyata di hati gue.
Dian, dan teman-teman lain, iya gue belum ikhlas melepas mimpi itu padahal di depan mata sudah ditawarkan harapan baru dengan kepastian nyata. Semoga ini hanyalah momen rindu sekelebat yang sebentar lagi akan terbawa angin.
Dian, dan teman-teman lain, kita sudah ada di jalan masing-masing, tapi gue rindu bersama dengan kalian melewati satu jalan. Gue rindu saat-saat dimana kita mengukir mimpi di langit, gue rindu saat-saat dimana kita mendemokan mimpi yang diharap akan tercapai.
Tapi tetap, gue mau ucapin selamat. Untuk gue sendiri, untuk Dian, untuk teman-teman gue. Pencapaian kita sekarang bukanlah sebuah sisa, bukan. Pencapaian kita saat ini anugerah, sisanya terserah bagaimana kita mengurusnya kan? Kita pernah mengukir mimpi di langit, kalau ternyata mimpi kita hanya sampai di langit pertama, berarti kita tetap bisa menyentuh langit, kita bisa suatu hari nanti melebihi mimpi yang kita ukir dulu.
Maaf jika terkesan menyedihkan, ini hanyalah gue yang terlalu emosional dan belum dengan ringan kaki menjajaki jalan di depan. Gue hanya rindu.
Salam Sayang,
Kardus.
People says that sharing is caring. Well, let's see then.
Kamis, 06 September 2018
Senin, 06 Agustus 2018
Srikandi Futsal 6 Bazuri #1
Hai gengs! udah lama gue gak nulis di blog ini. Btw, gue mau sharing tentang pengalaman gue menekuni olahraga futsal putri. Jadi, salah satu hobi gue adalah berolahraga. Selama 18 tahun, gue udah mencoba berbagai bidang olahraga, antara lain: volly, pencak silat, basket, renang dan futsal. Gue bukan berasal dari keluarga atlet.
Ok, cukup kali ya intronya. Sekarang gue mau bercerita pengalaman gue tentang olahraga futsal putri. Gue mulai mengenal olahraga futsal putri sejak Januari 2017. Saat itu gue kelas 11 semester 2. Agak telat si ya gue masuknya, soalnya gak lama lagi kelas 12. Dan, kegiatan gue akan disibukkan dengan namanya ujian. Jadi, di sekolah gue ada estrakulikuler futsal putrinya. Nama tim kami adalah ladies six. Dan untuk nama ekstrakulikuler futsal nya sendiri adalah Bazuri 6 FC.
Btw, kenalin mereka adalah pelatih di estrakulikuler futsal sekolah gue. Yang kiri pelatih futsal putra, namanya Yudho Dwi Asmoro dan sebelah kanan namanya Ali Nida Ulhaq. Panggilan akrab mereka itu bang dodoy sama bang ali.
Waktu pertama kali gue ikut turnamen futsal putri itu di Futsal 1818 Ceria di daerah kukusan depok. Gue gatau si nama eventna apa. Saat itu gue diajakin gitu buat ikut futsal. Soalnya butuh kiper, gue diajakin sama anak-anak futsal putra nya buat join di futsal. Pas diajakinnya itu lagi ada event bazuri cup di sekolah. Jadi, bazuri cup itu event dari estrakulikuler futsal yang peserta nya alumni futsal dari angkatan 1 sampai akhir. Kegiatan ini menurut gue bagus, soalnya mempererat tali silaturahmi antar angkatan.
Nah, waktu pertama kali turnamen. Gue masih noob banget hehe, gue kegolan 7. Gue bener bener bingung, gue gatau harus gimana. Saat itu gue belom paham tentang sistem permainan futsal. Jadi, seadanaya aja gue bermodal berani, tekad dan semangat. Untuk event ini, kami belum bisa meraih gelar juara.
Ini adalah foto saat turnamen di Futsal 1818 Ceria event Sakha Cup
Setelah itu, kami semakin rajin buat latihan. Dan, mempersiapkan untuk turnamen selanjutnya. Oiya, kita latihan setiap hari senin, rabu dan jumat. Kalau hari senin dan rabu kita mulai latihan mulai sehabis sholat ashar sampai jam 6. Kalau hari jumat mulai jam 2 sampai jam 6. Turnamen kedua kita adalah Hexa Cup, yaitu event di sekolah kita sendiri. Kita latihan sekitar 2 bulan. Ini fotonya, tapi kita lupa buat foto full tim. Adanya foto ini aja.


Di event ini kami belum berhasil meraih gelar juara.Kami hanya meraih harapan 1.
Kami memang bukan tim yang jago. Tetapi, kami punya jiwa semangat yang tinggi. Tim kami pun semuanya belajar futsal dari nol. Karena, kami masuk bukan melalui jalur prestrasi. Kami punya tekad yang kuat untuk membela lambang yang ada di dada kami. Dan, mengharumkan nama sekolah kami. Langkah kami untuk meraih gelar juara pun tidak terhenti sampai di turnamen ini. Kami kembali mencoba di turnamen berikutnya. Yaitu, di event Charitas Cup. Event ini diselenggarakan di sekolah SMA Charitas Jakarta di daerah lebak bulus jakarta selatan. Ini adalah turnamen ketiga gue. Btw, posisi gue di tim futsal putri ini sebagai kiper. Kita latihan untuk event ini sekitar 3 sampai 4 bulan. Dan, akhirnya kami berhasil meraih gelar juara 2.
Ada yang gregret si di turnamen kali ini, kita sempat bertemu lawan tuan rumah event ini. Sempet gerogi karena pendukungnya sangat amat banyak. Tapi, seperti yang gue bilang sebelumnya. Kami punya jiwa semangat yang tinggi. Kami tidak takut. Pelatih kami pun selalu meyakinkan dan percaya bahwa kami bisa. Dan akhirnya kita bisa unggul saat di semifinal. Dan, kita melangkah maju ke final. Di final pun ada yang greget juga. Kita sempat tertinggal 3-0 dari lawan. Sempat down, karena kami ketinggalan di babak pertama. Tapi, akhirnya di babak kedua kita bisa menyusul skor yang tertinggal menjadi 3-3. Dan, akhirnya pinalti. Jujur, gue rada takut dengan pinalti. Karena, di turnamen sbelumnya pinalti juga. Dan, gue kan belum lama di dunia futsal. Jadi, belum terlalu paham bagaimana cara untuk tetap tenang saat pinalti dan apa yang harus gue lakukan saat pinalti. Pas pinalti di event ini, jujur aja gue nangis karena takut hehe.
-doyan
-doyan
Senin, 02 Juli 2018
Mudik Sendiri!
Well, ini cerita perempuan usia 17 tahun yang baru pertama kali ke kampung halaman orang tuanya sendirian. Bagi sebagian besar orang ini hal biasa, tapi ini juga biasa buat gue HEHE gak lucu astaghfirullah.
Oke, maaf atas basa-basinya.
Iya jadi begini kawan-kawan, gue mau kasih saran aja--eh sebenernya lebih ke cerita sih ya- tentang perjalanan mudik lebaran tahun ini. Gue berangkat naik bus dan balik ke tempat kelahiran naik kereta. Buat yang mudik sendiri gini, masalah ongkos--di luar tiket transportasi- bisa jadi dua; boros abis dan hemat abis.
Kenapa gue bilang boros? Ini buat orang-orang yang gak mau ribet di persiapan, biasanya yang tinggal bawa baju aja gak mau prental-prentel bawa tentengan. Kalo laper ya tinggal beli aja, nah ini mending ya kalo laper perut doang, kalo laper mata waaaaaah bocor deh dompetnya hahahaha. Tapi ya, tipe yang ini sebenernya gue yang gak gue banget juga sih hehe.
Lanjut buat tipe yang hemat, orang-orang seperti ini patut sih diacungin jempol karena planologinya yang cool hahaha sampe bisa mengatur dompetnya supaya gak bocor, asik. Doi ini yang nyiapin segala-galanya supaya gak perlu repot di transportasi, mulai dari bekal makanan, tisu, hand sanitizer, uang recehan buat kalo ke toilet, sampe plastik buat sampah atau hal lain yang tak terduga. Iya, segitunya si hemat ini dalam persiapan supaya gak perlu ribet ketika di perjalanan. Meskipun resiko harus bawa tas berat tapi doi seneng kalo tasnya itu udah menyerupai kantong doraemon.
Nah, kalo gue tipe yang mana ketika mudik kemarin, jujur aja tipe si hemat ini hahahahaha. Maaf saya mau ngetawain diri saya dulu yang naif ini. Oke kembali ke topik awal, mudik sendiri gue yang pertama kali ini gue sebagai tipe kombinasi. Dipaksa bro sama nyokap buat hemat, tapi karena gue yang rebel jadi ya cuma nyiapin apa yang disiapin si hemat kecuali makanan.
Dua tipe yang gua sebutkan di atas gak menjadi patokan ya. Tergantung masing-masing orangnya nyiapin kebutuhan mereka sendiri.
Gue ngabisin Rp811.500 berikut rinciannya;
-----Berangkat-----
Beruntung gue dapet tanggal dimana tol fungsional udah dibuka dan gue gak kena macet parah, jadi gak bikin hati menangis karena naik bus. Tapi buat gue kereta itu terbaik sih hehe. Tiket bus ini gue dapet h-1 keberangkatan karena sebetulnya gue udah dapet tiket kereta tanggal tujuh tapi karena ada sesuatu gue harus naik bus di tanggal lain. Saran gue buat di momen mudik ini carilah kenyamanan untuk diri sendiri, bus RAYA sebagai pilihan terbaik gue untuk diri gue sendiri.Menuju terminal dengan GO-JEK, gue saranin untuk isi gopay supaya gak perlu ngicek-ngocek kantong dan malah jadi terlalu banyak recehan di kantong atau dompet, bikin pusing sendiri karena ngeliatnya hahaha.
Berhubung di dekat terminal ada indomaret dan gue yang gak nyiapin bekel, gue jajan dulu beli roti sama bon cabe ngabisin uang sekitar Rp18.000.
Bus berhenti dua kali selama perjalanan buat makan. Pemberhentian pertama makan sudah termasuk harga tiket, yang engga cuma toilet, jadi di pemberhentian pertama gue ngeluarin Rp2.000. Pemberhentian kedua buat sahur ngeluarin duit Rp15.000, 13 ribu nya makan nasi+kikil+telor, dua ribu nya buat toilet.
Berangkat dari terminal pondok pinang jam lima sore, tiba di terminal Tirtonadi jam lima pagi. Lancar kan? Terima kasih buat tol fungsional yang sudah dibuka hehe. Karena gue bertujuan ke Klaten alias kampung halaman nyokap jadi gue harus lanjut ke terminal Penggung setelah solat di terminal Tirtonadi. Naik bus jurusan Surabaya yang ada AC nya bermodal Rp15.000 bisa turun di terminal Penggung dan sudah ditunggu bapak tercinta yes.
-----Pulang-----
Balik Depok ini agak ribet tapi asik parah. Jadi gue harus ke stasiun Solo Balapan dulu, dari Sragen alias kampung halaman bokap jam setengah empat pagi sampe stasiun setengah lima pagi. Dari stasiun Solo Balapan naik kereta Kalijaga turun di stasiun Semarang Poncol, setelahnya langsung menuju loket buat cetak tiket onlinenya.
Kereta Kalijaga itu kereta lokal Solo-Semarang, ada kereta lokal lainnya seperti; Kaligung, Prameks, dll*. Buat tiket kereta lokal ini harus dipesan minimal H-1, nah karena ini dalam suasana mudik jadi harus lebih jauh-jauh hari lagi.
Kenapa kelihatannya gue seperti dikejar waktu? Padahal aslinya enggak, gue nyaman seperti mudik kemarin karena gue gak perlu nunggu lama, turun kereta satu gak selang lama naik kereta berikutnya, gitu jadi simple.
Tapi kawan-kawan, yang seperti gue gak cuma gue doang, ada yang lebih mepet dari gue, keberangkatan dia setengah jam lagi tapi dia belum cetak tiket, hadeeeeh. Dan ya tau lah ya apa yang terjadi, dia minta nyelak, hei jangan kasih! Itu resiko dia, tapi ya kalau kawan-kawan berbesar hati terserah sih hehe, maaf kalo gue enggak. Ternyata gangguan gak cuma dari si fulan, tiba-tiba dari jarak hanya sekitar dua meter ada kerumunan orang yang di tengahnya ada bapak-bapak rambutnya udah putih beliau tinggi besar kulitnya putih, wajahnya cerah. Ternyata pak Ganjar! Jagoanku wehhhhh.
Oke kali ini gangguannya sangat menggoyahkan pendirian haha, tapi aku kuat gengs. Gue gak beranjak dong dari barisan gue, sayang-sayang udah antri panjang. Yha pertahanan pendirianku membuahkan hasil, pak Ganjar miyak* barisan gue buat ke tempat makan yang ada di sayap kanan stasiun, pak Ganjar nyalami* gue dan beberapa orang yang baris, ditanya dong gue mau kemana dan hati-hati katanya. HEHE seneng akutuuuu, sukses pak Ganjar buat lima tahun kedepan!
Oke back to topic, balik dari mudik ini juga gue niatnya jajan aja makanannya, ternyata bude gue yang di Semarang merelakan waktu beliau buat nganter bekel ke stasiun, gue ngobrol gak lama karena ya gue memang gak membuat banyak waktu buat nunggu kereta jurusan Jakarta.
Yang ini paling penting tapi lupa gue kasih tau di awal haha, lo pada harus deh bawa earphone pun kalian itu orang yang suka ngobrol sama orang. Karena kita gak tahu seperti apa orang yang akan kita temui nanti, jadi ya save ourself. Kebetulannya, samping gue di kereta sangat tidak mengenakkan haha.
Sampai stasiun Pasar Senen, naik busway berhenti di halte Lebak Bulus, oh iya kalo dari stasiun Pasar Senen naik buswaynya gak perlu dari halte. Jadi kalian keluar lewat pintu masuk mobil trus di depan udah ada busway ngetem, ini gue kasih tau yang aman nya buat naik busway aja karena kalo lo keluar arah terminal adanya bus P20 ya sama-sama di Lebak Bulus sih, tapi amannya naik busway aja. Siapin uang Rp3.500 kalo gak ada tapcash BCA, gue bayar cash.
Tips buat yang bawa barang mungkin kardus atau tas besar yang ditenteng, taruh aja di bawah bangku busway karena gak memungkinkan kan kalo harus dipegang terus kalo ada orang yang lebih butuh bangku kita jadi kita harus ngalah, tapi jangan jauh-jauh dari barang yang ditaruh di bawah kursi tadi.
Setelahnya, dari halte Lebak Bulus gue naik GO-JEK sampai rumah dengan selamat.
Kereta Kalijaga itu kereta lokal Solo-Semarang, ada kereta lokal lainnya seperti; Kaligung, Prameks, dll*. Buat tiket kereta lokal ini harus dipesan minimal H-1, nah karena ini dalam suasana mudik jadi harus lebih jauh-jauh hari lagi.
Kenapa kelihatannya gue seperti dikejar waktu? Padahal aslinya enggak, gue nyaman seperti mudik kemarin karena gue gak perlu nunggu lama, turun kereta satu gak selang lama naik kereta berikutnya, gitu jadi simple.
Tapi kawan-kawan, yang seperti gue gak cuma gue doang, ada yang lebih mepet dari gue, keberangkatan dia setengah jam lagi tapi dia belum cetak tiket, hadeeeeh. Dan ya tau lah ya apa yang terjadi, dia minta nyelak, hei jangan kasih! Itu resiko dia, tapi ya kalau kawan-kawan berbesar hati terserah sih hehe, maaf kalo gue enggak. Ternyata gangguan gak cuma dari si fulan, tiba-tiba dari jarak hanya sekitar dua meter ada kerumunan orang yang di tengahnya ada bapak-bapak rambutnya udah putih beliau tinggi besar kulitnya putih, wajahnya cerah. Ternyata pak Ganjar! Jagoanku wehhhhh.Oke kali ini gangguannya sangat menggoyahkan pendirian haha, tapi aku kuat gengs. Gue gak beranjak dong dari barisan gue, sayang-sayang udah antri panjang. Yha pertahanan pendirianku membuahkan hasil, pak Ganjar miyak* barisan gue buat ke tempat makan yang ada di sayap kanan stasiun, pak Ganjar nyalami* gue dan beberapa orang yang baris, ditanya dong gue mau kemana dan hati-hati katanya. HEHE seneng akutuuuu, sukses pak Ganjar buat lima tahun kedepan!
Oke back to topic, balik dari mudik ini juga gue niatnya jajan aja makanannya, ternyata bude gue yang di Semarang merelakan waktu beliau buat nganter bekel ke stasiun, gue ngobrol gak lama karena ya gue memang gak membuat banyak waktu buat nunggu kereta jurusan Jakarta.
Yang ini paling penting tapi lupa gue kasih tau di awal haha, lo pada harus deh bawa earphone pun kalian itu orang yang suka ngobrol sama orang. Karena kita gak tahu seperti apa orang yang akan kita temui nanti, jadi ya save ourself. Kebetulannya, samping gue di kereta sangat tidak mengenakkan haha.
Sampai stasiun Pasar Senen, naik busway berhenti di halte Lebak Bulus, oh iya kalo dari stasiun Pasar Senen naik buswaynya gak perlu dari halte. Jadi kalian keluar lewat pintu masuk mobil trus di depan udah ada busway ngetem, ini gue kasih tau yang aman nya buat naik busway aja karena kalo lo keluar arah terminal adanya bus P20 ya sama-sama di Lebak Bulus sih, tapi amannya naik busway aja. Siapin uang Rp3.500 kalo gak ada tapcash BCA, gue bayar cash.
Tips buat yang bawa barang mungkin kardus atau tas besar yang ditenteng, taruh aja di bawah bangku busway karena gak memungkinkan kan kalo harus dipegang terus kalo ada orang yang lebih butuh bangku kita jadi kita harus ngalah, tapi jangan jauh-jauh dari barang yang ditaruh di bawah kursi tadi.
Setelahnya, dari halte Lebak Bulus gue naik GO-JEK sampai rumah dengan selamat.
Udah sih gitu aja cerita gue, kalo ada yang gak jelas atau mau tanya lebih bisa komen ya! Thank you xoxo.
-kardus
*) miyak: seperti membelah kerumunan
nyalami: ngajak salaman
daftar kereta lokal jawa tengah: https://javaneselocaltrainschedule.blogspot.com/search/label/Jadwal%20Kereta%20Api%20Lokal%20Jawa%20Tengah
Kamis, 28 Juni 2018
Sebuah Hubungan
Kadang, yang kita anggap sederhana. Masih terbaca rumit oleh dunia.
Manusia adalah makhluk yang gak berhenti membuat gue terpana dengan segala macam tingkahnya, sifatnya, dan segala macam urusannya.
Kali ini gue mau membahas tentang suatu hubungan. Kalian pasti sejak kecil sudah memiliki hubungan bukan? Entah itu hubungan dengan orang tua, teman, dan lain-lain. Semakin dewasa, gue merasa kata 'sahabat' ini sulit untuk didefinisikan. Maksud gue, sebenarnya sahabat itu seperti apa dan bagaimana. Dan apakah orang yang selalu ada di saat senang ataupun duka pantas mendapat julukan 'sahabat' ? Atau justru orang yang memahami diri kita dengan baik, selalu mendukung dengan setulus hati, atau yang selalu berbuat baik terhadap kita? Terkadang gue berpikir, sebenarnya sahabat itu dikategorikan seperti apa. Dan hubungan persahabatan itu layaknya seperti saudara sendiri kah?
Terkadang gue bingung mana yang harus gue anggap sebagai sahabat atau teman dekat. Atau dua kata tersebut memiliki arti yang sama?
Selama gue 18 tahun, hubungan persahabatan itu selalu memiliki jeda, yang mengganggap hubungan persahabatan itu sudah tidak seperti sahabat lagi. Entah jeda karena jarak, tidak pernah hangout bareng, tidak pernah bercerita lagi, atau memiliki teman baru. Dan, pernah gak si kalian merasa gak yakin bahwa yang kalian anggap sahabat, itu emang beneran sahabat kita? Atau mungkin, hanya sebelah pihak saja yang mengganggap seperti itu.
Gue pernah merasakan, bagaimana rasanya ketika kepercayaan yang sudah tumbuh. Lalu, dirusak dengan mudahnya oleh sebuah hubungan bernama sahabat. Rasanya itu seperti apa yang selama ini lo genggam, ternyata di dalamnya itu ada duri yang begitu tajam. Dan, salah satu efek yang ditimbulkan adalah tidak mudah untuk percaya sama orang lain. Butuh waktu yang lama, untuk mengenal dan memahami satu sama lain.
Jadi, rasa percaya itu menurut gue lebih penting dibandingkan rasa sayang. Karena, ketika lo sudah percaya sama seseorang otomatis lo akan sayang. Dan setelah itu adalah sebuah komitmen. Iya, komitmen dalam sebuah hubungan itu penting.
Dan, alangkah baiknya ketia lo mencintai atau menyayangi orang lain. Cintai dan sayangi diri lo dengan baik terlebih dahulu.
-doyan
Langganan:
Komentar (Atom)
Surat untuk Dian
Mulai menulis ini pukul 02.55 pagi, sembari mencari terminologi-terminologi biomekanik, belum tau selesai kapan. Sebetulnya menulis ini buka...
-
Well, ini cerita perempuan usia 17 tahun yang baru pertama kali ke kampung halaman orang tuanya sendirian. Bagi sebagian besar orang ini ha...
-
Kadang, yang kita anggap sederhana. Masih terbaca rumit oleh dunia. Manusia adalah makhluk yang gak berhenti membuat gue terpana de...
-
Hai gengs! udah lama gue gak nulis di blog ini. Btw, gue mau sharing tentang pengalaman gue menekuni olahraga futsal putri. Ja...










